Grab this Widget ~ Blogger Accessories

Friday, April 10, 2009

Esai>>Abadi dan Mandiri bersama biskuit Khong Guan


Diantara sejumlah biskuit, ada satu kaleng biskuit yang menyita perhatian penikmat biskuit: biskuit Khong Guan. Khususnya yang bergambar keluarga kecil yang tengah menikmati biskuit dan kopi atau teh?

Bila kita memperhatikan ilustasi pada kaleng kotak itu nampak dari dulu sampai sekarang, dua remaja dan si Ibu tidak tumbuh besar * saya ingat film Unyil :) Mereka tetap terus menerus makan dan terlihat harmonis. Di atas meja itu, tersedia minuman dan biskuit yang terhidang. Tentu biskuit itu biskuit Khong Guan. Namun, yang menarik tidak tampak sang Bapak? Potret keluarga kecil ini menyiratkan potret keluarga sedang atau mapan. Mungkin, sang bapak sedang dinas luar? Yang pasti sosok ibu disitu seperti ingin menegaskan kehadirannya sebagai citra ibu yang intim mengasuh kedua remaja itu.

Sejak Khong Guan PTe LTD ini memasarkan biskuit ini tahun 1947, ilustrasi dan cita rasa biskuit ini telah hadir dalam ritual masyarakat Indonesia selama 62 tahun. Jenis biskuit ini bermacam-macam, mulai dar Crackers, Cookies, Wafers, Shortcake Biscuits, Cream-Filled Sandwich, dan lain-lain. Pabrik biskuit ini tersebar dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Hongkong, dan Cina. Eksport biskuit ini meluas ke Amerika hingga timur tengah termasuk Jepang dan Papua New Guenia.

Ritual ini hadir biasanya menjelang hari raya besar agama. Tamu dipersilahkan mencicipi biskuit kaleng ini. Biasanya ditemani oleh teh manis atau kopi. Dan segera setelah itu, antara tuan rumah dan tamu berlangsung berbagai jenis obrolan. Bila obrolan terasa hambar atau macet, maka ini waktu yang tepat untuk mengunyah-ngunyah biskuit Khong Guan, sebab siapa tahu ada topik obrolan baru !

Diantara jenis biskuit, jenis biskuit favorit yang paling banyak dicari adalah “wafer”. Ya, wafer, biskuit ini bias
anya agak tersembunyi di antara deretan dan susunan hirarkis jenis biskuit lainnya. Saya termasuk yang mencari biskuit yang mengandung pemanis cokelat ini :) Kres, bunyinya, tanda rasa yang simpel dan renyah ! Tapi tunggu dulu ! Jangan langsung dimakan, ada keasikan tersendiri ketika lapis demi lapis kue ini dibuka satu persatu.

Si wafer diburu karena memang nampak ia diposisikan istimewa. Terlapisi plastik pelindung khusus. Selain itu, seperti sudah jadi tradisi, biskuit wafer seolah mengawali dan mengakhiri proses memakan jenis biskuit lainnya. Keponakan saya mendapat kelakar julukan dari bulek saya di Jawa Timur sebagai: “gilingan puntir”. Seperti penggiling, sebab susunan biskuit dalam kaleng Khong Guan dipuntir-puntirnya berantakan, pokoknya diobok-obok sampai wafer ketemu. Dari cerita tentang bulek, biskuit ini memicu banyak pengertian baru: Gilingan Puntir.


Bila kita mau berkunjung ke Kebon Binatang Surabaya (KBS), nampak tak jauh dari situ ada tugu Khong Guan. Tugu Khong Guan seperti sebuah landmark, ia juga menandai kota Surabaya selain patung Yos Sudarso dan tugu Pahlawan. Apa yang kita lihat dari tugu itu sama persis dengan bentuk kotak kaleng Khong Guan. Dari bilik jendela bis, mobil, atau orang-orang yang dipemberhentian lampu merah akan melihat sosok tegar Khong Guan.

Walau tak setinggi monumen umumnya, cara berdiri Khong Guan berdiri sama seperti cara berdiri tugu Pahlawan dan patung Yos Sudarso yang berdiri tegap dan mantap. Seperti tokoh Yos Sudarso dan mitos Sura dan Baya, biskuit Khong Guan seperti tak mau kalah dan juga seperti lantang berseru: “Walau hujan dan panas menerpaku, aku tetap Khong Guan mu !” Kurang lebih begini bila kita menjejajarkan tugu Khong Guan dengan nasionalisme tanda pada tugu Pahlawan dan Yos Sudarso.

Ilustrasi pada kaleng biskuit itu menjadi penjadi pengingat setiap peralihan generasi. Ilustrasi Khong Guan tetap sama. Ibu dengan dua anak itu tetap tengah asik menikmati hidangan biskuit. Dengan nuansa mode rambut dan pakaian “jadul” era 60-70-an. Khong Guan seperti tidak menjanjikan apa-apa . Tetap konsisten. Baik dari bentuk dan cita rasanya. Konservatif? Kita boleh bosan dengan cara biskuit ini mencitrai dirinya, namun nyataya biskuit ini tetap digemari oleh keluarga Indonesia.

Barangkali bukan lagi jenis dan rasa biskuit itu yang kita ingini, tapi kita membutuhkan nilai keabadian dan kemandirian yang tak terlihat dari biskuit Khong Guan. Mungkin...

Mari kita bikin teh atau kopi dengan hidangan biskuit dengan cita rasa abadi ini :)

Read More......

Wednesday, February 04, 2009

info>> Imajinasi dan Masa Depan Pengetahuan


Transjektory Journal mengunduh esai "Imajinasi dan Masa Depan Pengetahuan" dari Afthonul Afid, silahkan simak pada:

http://transjektory.wordpress.com/2009/02/04/imajinasi-dan-masa-depan-pengetahuan/?preview=true&preview_id=194&preview_nonce=d6792f6271

Selamat membaca !

Read More......

Saturday, January 31, 2009

a story>>Hello para malaikat kecil, semoga kalian melihat foto ini


Tanpa mereka saya akan terlambat pada konferensi Biennale "Translocalmotion" yang diselenggarakan oleh IFA di Goethe Institute, 2008 lalu.

Peristiwa ini terjadi ketika saya bergegas keluar dari hotel tempat saya menginap pukul 08.00 waktu Shanghai. Peta dan sketsa yang diberikan oleh petugas hotel dengan bahasa Inggris terbatas itu membuat saya cukup frustasi untuk menuju jalan yang hendak saya tuju. Saya seperti... semut di tengah ratusan gedung pencakar langit. Orang-orang kantor berjalan cepat-cepat, bis-bis, taksi-taksi, dan turis yang juga beberapa tampak kebingungan. Semua tumpah dalam jalanan padat kota.
Berulang-ulang saya mengecek peta yang saya bawa, berkali-kali saya menanyakan pada beberapa orang dewasa yang lewat. Semua tampak terburu-buru dipagi hari itu, sampai akhirnya waktu sudah pukul 09.30, sementara konferensi akan dimulai pukul 10.00. Pucatlah saya.

Ditengah kepanikan, dua orang sepasang muda ini lewat didepan, dengan harapan 10 % saya memberikan peta ini kepada mereka. Sungguh diluar dugaan saya, dengan sigap dan cepat, "malaikat kecil" menggangguk dan memastikan bahwa mereka mengetahui jalan yang saya cari. Hopla ! Saya bersyukur, ada anak negri tirai bambu ini yang teramat baik mengantarkan saya. Beberapa kali mereka terlibat percakapan, juga seperti tengah berdebat pada jalan yang mau dituju. Beberapa kali pula mereka menanyakan pada orang dewasa hingga polisi. Rupanya mereka juga bingung. Namun dengan bahasa Inggris yang mereka akui tidak terlalu percaya diri memberi tahu saya bahwa mereka ini juga tengah liburan sekolah.

Hopla ! Sampailah saya di depan kantor Goethe Shanghai. Saya mengucapkan terimakasih banyak, mereka mengangguk, dengan cepat mereka segera berbalik badan dan akan pergi. Waktu tinggal 10 menit ke pembukaan. Saya teringat kamera yang saya bawa, dan meminta mereka untuk saya potret. Situasi yang terburu-buru membuat saya lupa nama mereka. Yang tertinggal hanya foto ini, sosok kecil ditengah kota yang demikian sibuk, dan saya yang terengah-engah mengejar waktu.

Terimakasih sang malaikat kecil, semoga kalian melihat foto ini...

Read More......

info>>Kabar Keramik

Saya baru saja menemeui mas Arif, mahasiswa S2 ISI Yogyakarta. Bagi Anda yang penggemar keramik, pencinta keramik, penting untuk melihat karya-karyanya. Keramik memang tidak sedinamis cabang seni rupa lainnya. Seperti lukis. Tapi kenyataanya masih saja ada yang kekeh untuk menekuni bidang ini. Beliau ini, pengajar keramik di UNESA, ia mengunggapkan betapa menjadi keramikus betul betul dihinggap rasa sepi.

Saya meyakinkan Mas Arif, bahwa sesunguhnya perkembangan seni keramik sangat menarik. Seni keramik sudah memiliki apresian yang tinggi, bukan cuma di Jogja, tapi Internasional. Jadi...memungkinkan untuk para keramikus dimanapun juga untuk mengeskplorasi media ini seluas-seluasnya.

Beberapa hal yang terbersit tadi adalah keinginan untuk membuat gathering sesama keramikus. Yang saya kira penting dilakukan untuk mencegah rasa kesepian ini. Pameran keramik juga harus diperbanyak. Dan memberikan sajian karya yang inovatif. Cita-cita para keramik ini antara lain adanya Biennale Keramik di Indonesia. Sejauh ini Korea sudah beberapa kali menyelanggarakan Biennale Keramik, tapi hingga sekarang Indonesia belum melalukan.

Ada rencana memang akan membuat Biennale Keramik ini dari rekan-rekan kurator. Kita tunggu saja nanti. Karena memang persiapan sangat kompleks dan tidak mudah. Yang mengharukan, Mas Arif ini bilang bahwa sudah 20 tahun ia tidak mendapat rekan-rekan ngobrol tentang keramik ini. Di era media ini,sebetulnya sudah kian mudah untuk mengakses banyak informasi mengenai perkembangan teknis dan bentuk keramik ini. Tinggal buka kita bisa menemukan beragam informasi.

Berikut ini, informasi video dari Biennale Keramik di Taiwan,

Enjoy !

Read More......

Friday, November 24, 2006

opinion>> Kemana Orientasi Desainer Grafis kini?

Kajian Desain Komunikasi Visual (DKV) kini progresif. Seperti roket ulang-alik, DKV tak henti-hentinya kritis melihat ulang dampak massifikasi desain dalam kehidupan sehari-hari kita. Soal klasiknya yaitu orientasi etis desainer kemana ya?

Catatan ini terinspirasi pada kuliah yang saya beri pada hari Senin ini, di mata kuliah Tinjauan Desain. Mas Koko dan Pak Sumbo Tinarbuko, pengamat desainer yang intens menekuni semiotika desain ini yang memberi kesempatan pada saya untuk... ngisi kelas di jurusan Desain Komunikasi Visual FSR ISI. Saat saya ditawari, dengan spontan saya bilang sama mas Koko, kita diskusikan saja tentang “Selera dan Hasrat” oleh-oleh dari ilmu Sosiologi Pierre Bourdue, dan Psikonalisa Jaques Lacan.

Baru-baru ini telah terbit buku “Menggeledah Hasrat”, terbitan Jalasutra. Isi buku itu memang khusus menggeledah produksi “hasrat” di kehidupan sehari-hari. Konten buku itu punya banyak sudut pandang. Apa itu hasrat? Kurang lebih itu “nafsu” (ini terjemahan desire yang tentu kurang pas pastinya) yang bikin orang tergerak untuk memutuskan tindakan.

Nampaknya, ada dua cara pandang melihat hasrat ini di “era bujuk rayu” sekarang ini: ada yang memandang pesimis, ada yang jutru melihatnya optimis. Bahwa, hasrat itu bisa disadari sepenuhnya oleh seseorang. Tapi masalahnya, hasrat itu dalam obrolan forum berat-berat itu dikatakan bikinan.

Lalu apa hubungannya dengan desainer? Inilah problem orientasi etisnya. Desainer dalam keyakinan atau “iman” yang mana? Saya kira ini dia yang menarik diobrolin. Ini memang soal pilihan orientasi. Adbuster misalnya adalah produk desain yang berusaha ngidupin nalar kritis publik, sekarang ini mereka kampanye untuk melihat TV secara kritis.

David Carson, Adbuster, dan lain-lain sering disebut mereka Avant-garde. Atau bahasa Indonesianya, Garda Depan. Tapi, Garda Depan dalam perspektif apa ia dibicarakan? Prinsip umum Avant Garde itu sering dikatakan punya nilai “kebaruan” dalam zamannya. Avant garde sering dianggap sebagai sebuah radical break. Sebagai retakan radikal. Sehingga ia dikatakan sama-sekali berbeda dengan selera suatu zaman. Gerakan Pop Art di Amrik misalnya, ia sebuah radical break atas persepsi seni waktu itu. Andi Warhol, tiba-tiba langsung meroket namanya. Pengaruhnya terasa sampai disini, dan dimana-mana. Apa yang di break? Jelas kemapanan selera dan persepsi orang Amrik waktu itu yang didominasi oleh seni-seni elit.

Andi Warhol kreatif? Ya, kreatif. Cuma dibilang kreatif doang, ga menjelaskan apa dibalik kreativtias dia. Ada sebuah break yang dilakukan oleh Warhol yang jelas. Tulisan ini sekadar elaborasi untuk melihat dibalik arti kreativitas. Tentu istilah kreatif itu bukan sesuatu yang bersifat wingit, yang sakral. Ada logikanya.

Warhol itu contoh luar, tapi adakah di “kandang” kita sendiri? Yaitu contoh yang kurang lebih mirip dengan pola-pola radical break. Pada kelas itu, saya kasih contoh yaitu fenomena komik Daging Tumbuh. Bagi saya itu contoh menarik. Komik Dafing Tumbuh itu kontras dengan tradisi komik Manga atau Marvel. Dua komik yang berasal dari Amerika dan Jepang ini.

Yang bikin beda adalah pada struktur narasi komik Daging Tumbuh. Judul-judul yang benar-benar sebuah break: “Digergaji Es Jeruk”, “Ditampar Nanas Muda”, “Diam adalah Emas Curian”, itulah beberapa contoh teks judul komik itu. Apa maksudnya ya? Ya kalau dicari artinya bisa mumet. Yang jelas komik itu berbeda dengan bacaan Marvel dan Manga yang linear, jelas dan rapi.

Apa yang berbeda adalah struktur Marvel, dan Manga berbeda dengan struktur Daging Tumbuh. Kreatif? Ya, jelas. Dan, berbeda? Iya juga. Inilah sisi menarik Daging Tumbuh ia tampil beda. Tapi apa yang sesungguhnya dicari dari kontras ini. Tidak lain adalah sebuah break dari komik mainstream. Bisa dibilang gini: suatu representasi itu tidak tunggal, ia bisa dilihat dari banyak sisi. Daging Tumbuh salah satu dari sisi itu. Hanya saja yang perlu dilihat adalah secanggih apapun ide tanpa teknik itu omong kosong. Artinya mau tidak mau, seorang komikus Daging Tumbuh yang ide-idenya liar itu, tentu tidak dibuat dengan serampangan.

Justru bagi saya, ia dikerjakan dengan serius dan penuh perhitungan, hasilnya kita sudah tidak lagi melihat keseriusan dibalik pembuatan komik itu, dan saya kira itu keberhasilannya. Berhasil? Iya. Analoginya sama dengan nontoh film yang berhasil bikin bulu kudu merinding, atau perut kita sakit karena tertawa, atau air mata kita meleleh terus. Itu karena ada struktur dibaliknya yang terencana. Jadi kreativitas itu punya nalarnya sendiri. Punya S-P-O-K alias gramatikanya. Punya paradigmanya sendiri. Daging tumbuh jelas, dia berbeda paradigma dengan paradigma komik Manga dan Marvel. Disitu Daging tumbuh membangun nalarnya sendiri, membangun strukturnya sendiri.

Kembali ke soal posisi etis desainer di era bujuk rayu ini. Mau berorintasi kemana? Ya, ini soal pilihan tentu saja. Kelihatannya tindakan memilih itu sederhana, tapi tidak bagi sosiolog Pierrre Bourdue, pilihan itu ditentukan oleh habitus. Alias budaya dimana seseorang itu tinggal. Kalau budayanya yang bernalar praktis, tidak ada yang perlu direfleksikan lagi kecuali tinggal dikerjakan. Sebaliknya kalo seseorang kritis atas kultur dimana ia tinggal, besar kemungkinan, ia menghasilkan cara pandang dan tindakan yang beda. Bahwa habitus itu menentukan orang punya berselera.

Adakah hubungan “penciptaan selera” ditangan desainer ini dengan prinsip “keinginan” (bukan “prinsip kebutuhan”). Misalnya, apakah desainer itu bikin desain yang berupaya menjawab kubutuhan orang atau desainer “ingin” bikin desain yang sesuai dengan seleranya?

Pada “prinsip kebutuhan”, desainer tentu akan kompromi dengan selera klien atau selera umum. Tapi keinginan itu lebih pada “selera habitusnya” yang barangkali kontras dengan selera umum. Disini istilah, “berani beda” dapat tempatnya. Berani beda artinya, berani berseberangan dengan selera orang banyak.

Komik Daging Tumbuh berani beda dengan selera orang banyak. Lalu apakah ia tidak eksis? Ia justru diminati karena tampil beda. Sebab yang berbeda itu yang dicari orang. Sebab yang berbeda itu pasti khusus dan istimewa. Ini selaras dengan gaya hidup orang modern kini, yang ingin tampil beda. Apa yang dicari dalam perbedaan? Tidak lain adalah cara orang mendapat identifikasi diri.

So, untuk jadi desainer Avant Garde, beranikah melawan selera massa? Seperti Andi Warhol, David Carson dan lain-lain?


Yogyakarta, 24 November 2006

Read More......

Sunday, November 19, 2006

esai>>Gaya hidup di FSRD Gampingan

Oleh: A.Sudjud Dartanto

Gampingan. Sebuah nama yang punya banyak julukan khasnya: gedung ini di sebut kampus ASRI, kampus Gampingan, kampus FSRD ISI. Siapa saja yang pernah intim dengan gedung yang bertetangga dengan SMA Teladan itu, pasti mengenangnya. Dan tiap ingatan: seperti halnya rasa kopi, punya kisah pahit, punya kisah manis.


Melihat masa lalu melalui Aksi Seni Bob, Aksi Shaggy Dog

Sejak kampus FSR ISI pindah ke Sewon, kondisi fisik gedung itu terlihat "kumal tapi nyeni". Seolah pas dengan gambaran gaya hidup "urakan-kreatif" anak seni rupa di Gampingan. Tapi di hari istimewa “sang Gampingan” ini, si gedung itu nampak tersenyum rapi. Saya kebetulan mantan “penduduk” di situ dulu, masuk FSRD ISI tahun 1996. Saya merasakan betul: aura “sang Gampingan” terasa menggetarkan. Gampingan punya pesona sihir, saya kira yang lainpun merasa demikian.“Benar-benar seperti dulu”, ujar Rain Rosidi menahan nafas. Dosen Seni Patung, angkatan'92 ini menonton aksi seni Bob bersama Warsono'95, rekan sejawatnya di jurusan yang sama ini. Sore itu memang ada aksi seni Bob Yudhita Agung, atau yang akrab di panggil Bob Sick. Bob melukis sambil diiringi musik unplugged dari Shaggy Dog, band dari Jogja yang kini menasional itu, band yang dulu pernah manggung di pentas musik Gampingan.

Inilah suatu rasa kebersamaan yang khas itu, personel Shaggy Dog, contoh satu dari banyak band yang menjadikan Gampingan seperti keluarga. Ira, alumni FSR ISI, dan kini anggota Dicso band yang mengisi acara Gampingan itu menyebut Gampingan sebagai “Tanah Kelahiran”. Kiranya, tidaklah berlebihan julukan ini, sebab memang banyak tokoh yang merasa dibesarkan di Gampingan ini.

Sore itu, nampak Yustoni Volentero’91, yang terkenal sebagai seniman-aktivis dan akrab di panggil alias Toni dengan gaya khasnya yang "konyol-chaos" sudah memberi informasi bahwa ada pagelaran musik Kroncong di aula Ajiyasa. Tapi gokil. Puluhan orang justru menyemuti aksi Bob itu. Si pekeroncong disana itu para alumni 80-an. “Berbagai aksi insidental inilah justru yang menjadi menarik, bila direncanakan malah ga’ jadi, “ kata Toni sambil tertawa lepas.

Ya, acara sore itu sore spontan dan tak terencana. Seperti ada magnet yang menyedot massa untuk mengerumuni performans Bob melukis. Nampak, ada beberapa bingkai kanvas di atas lantai mantan gedung koleksi itu, Bob yang berbadan dan muka penuh tato, berambut gimbal beberapa helai itu terus melukis sambil menenggak air perdamaian. Ia berceloteh yang mengundang tawa penonton dengan latar live music kelompok band-ska Shaggy Dog yang menyanyikan beberapa hits lagunya. Asik sekali. Tubuh Bob dan celotehannya menjadi sebuah pertunjukan sendiri, dan tentu dong, Shaggy Dog yang makin melengkapi suasana dramatis sore itu. Inilah peristiwa gado-gado yang langka. Tentu saja semua ini gratis.

Bob Sick seperti menjadi pintu masuk melihat ingatan jaman dulu. Masa lalu ala Gampingan yang kental. Kita tenggelam pada roman melankolia. S.Teddy D, perupa beken, angkatan 92 itu misalnya, asik berjoget di tengah lingkaran. Bersama pelukis Yuswantoro Adi, dan beberapa orang menari bersama sang “kecil” putra pasangan pematung Anusapati dan usahawan Kika. Ninus dan Kika adalah contoh pasangan diantara sekian banyak couple yang ikut mengenang acara hari itu. Semua mabuk. Ya memang beberapa mabuk fisik dengan alkohol, tapi, semua mabuk bukan karena alkohol, tapi oleh perasaan nikmatnya kebersamaan yang menggelora.

Dari ekpresi orang yang menyemuti Bob, nampak kami memang rindu pada celotehan liar Bob , dibalik celotehan yang terdengar “ngawur itu” ada kejujuran yang keluar dengan spontan, kejujuran bernada ironi dan parodi. “Masak seniman kontemporer minumnya Aqua”, begitu salah satu ocehannya.“ Maen 15 lagu ya !”, teriak Bob tanpa ambil pusing, Heru sang vokalis tertawa, demikian pula kami. Barangkali sosok Bob yang juga ternyata bapak Kos ini mewakili jiwa-jiwa yang ingin lepas.

Lukisan itu itupun akhirnya selesai. Nampak lima atau enam kanvas dengan kontur wajah manusia tergambar. Acara berikut adalah semua tetap menikmati lagu-lagu Shaggy Dog. Irama Raggae menemani kami di sebuah sunset melodick di Gampingan.


Memainkan Puzzle Ingatan

Tiba-tiba semua seperti diam, terlihat ada sekuen-sekuen dramatis: Gampingan itu tampak siluetnya, hanya samar-samar terlihat, orang-orang mulai tak terlihat wajahnya, matahari terbenam, gelap menyelimuti. Tapi, semua masih bertahan. Lalu nyaris tanpa komando nampak banyak angkatan membuat cluster-nya sendiri-sendiri. Bikin lingkaran-lingkaran kecil. Apa lagi yang dibicarakan selain romantisme dulu. Kami ibarat mengeja ingatan dulu yang lepas-lepas. Seperti anak kecil. Kami bermain puzzle ingatan. Membetuk gambaran utuh ingatan yang gak bakal pernah utuh.

Pada hari itu pula, penonton berkesempatan pula menyaksikan gladi resik teater Garasi. Semua enjoy. Hari itu juga datang pelbagai kalangan kesenian, seperti pengelola galeri juga nampak, ada Biantoro dari Nadi Gallery, Nunuk Ambarwati dan Mikke Susanto dari Jogja Gallery, juga Farah Wardani dan Nuraini Juliastuti dari Yayasan Seni Cemeti. Kemudian juga terlihat perupa yang menasional dan melanglang di dunia Internasional seperti: Astari Rasid, Pintor Sirait, Agus Suwage, Tita dan keluarga. Nampak pula, Suatmaji, Pahlevi , Yunizar, I Made Aswino Aji, dan lain-lain.

Dari Gampingan muncul Nama-nama Besar

Tadi pagi, saya melihat liputan mengenai acara itu di satu stasiun televisi swasta. Terlihat M. Dwi Marianto, Joko Pekik, GM Sudharta, dan lain-lain. Panitia-panitia juga nampak sibuk, ada Kuss Indarto, Yuswantoro Adi, Iwan Wijono, Satya Brahmantya, Janu, Angki Purbandono, Wimo A. Wayang, Wock the Rock, dan lain-lain. Selain itu, tokoh-tokoh atau ikon-ikon yang aktif di gampingan dulu juga ada, Wilman Syahnur beserta Istri, Leni pematung, Syamsul Bahri, Ari Dyanto, Dodi, dan lain-lain. Acara "Melukis Gampingan" ini memang di hadiri oleh banyak kalangan pengelola lembaga kesenian dan seniman yang "sukses".

Gampingan jadi Museum

“Tak ada yang berubah dari gedung ini bila ini jadi museum”, ujar Iwan Tipu, salah satu panitia. Gedung ini memang akan jadi Museum Nasional Jogja. Tentu menjadi harapan kita semua agar Museum ini kelak benar-benar menjadi representasi keberagaman karya seni di Jogja dan nasional. Semoga renovasi nanti tidak membongkar situs-situs bersejarah mantan gedung FSRD ISI ini.

Saya membayangkan Museum itu nanti punya ruang eksposisi dokumentasi catatan sejarah. Bukan saja memuat aspek kekaryaan semata, namun catatan periode-periode sosial dan budaya di Gampingan. Supaya kita dapat gambaran gaya hidup, partisipasi dan interaksi masyarakat sekitar dengan Gampingan yang pernah terjadi. Saya bayangkan juga ada kafe buat kongkow-kongkow, dan tentu semestinya ruang-ruang yang representatif untuk simpan karya. “Silahkan bagi siapapun untuk memberi masukan untuk masa depan tempat ini”,ujar Iwan.

Gaya Hidup Gampingan: Sentrum Musik dan Fesyen

Semalam sebelum acara Melukis Bersama ini, Bob Sick dan rekan-rekan bikin pentas musik dan reuni “Resureaction 2”. Menggelar beragam band: Jeruji, Human Chaos, The Arya’s, Frozen dan lain-lain. Sebuah acara musik yang meneruskan tradisi band-band-an di kampus FSRD ISI ini dulu. Sejumlah yang band lahir di Gampingan ini seperti: Steak Daging Kacang Ijo, sebuah band yang nyaris anggotanya tidak bisa bermain alat musik tapi punya modal nekad tampil. Black Boot, band Punk yang mengisi scene musik independent di Jogja, lalu I hate Mondays, band alternatif, Rafllesia Garden, band Gothic yang all-out penampilannya.

Dulu, ada mata kuliah konvoi, yaitu aksi spontan penduduk Gampingan mengantar dan emeriahkan crowd band Gampingan yang mentas di sejumlah panggung di kampus-kampus Jogja. Om Leo, atau yang dulu di panggil Angga adalah satu penduduk Gampingan yang sempat bikin band bernama Concentrate Detergent, kini ia popular dengan band beralirian Synth-pop: Goodnite Electric. I Hate Mondayz pun kini menjadi Mondayz dan personilnya mendirikan band lain bernama Stereovilla. Gampingan pada tahun 96-an misalnya, terkenal sebagai salah satu sentrum musik di Jogja. Acara inagurasi Gampingan selalu ditunggu-tunggu publik musik Jogja, seperti annual event: Recycle dan lain-lain.

Dulu, saat saya menjadi salah satu panitia repot acara Inagurasi menyaksikan langsung betapa repotnya menyeleksi band-band yang bersaing untuk tampil di Gampingan. Kondisi yang ideal saat itu memang: band, panggung dan massa yang sadar busana, sudah satu paket. Lingkungan kondusif untuk tumbuhnya gaya hidup anak muda di Gampingan pada masa itu. Puncak even musik yang terkenang dulu adalah “Twenty Something Twenty Nothing”, sebuah acara independent yang dikelola oleh mahasiswa FSRD ISI, antara lain Dionisius a.ka. Dion, Bintang Hanggono, seorang desainer, Ade Darmawan, perupa, yang kini bos Ruang Rupa ini mengundang band-band yang kini dan sempat mewarnai kancah permusikan nasional seperti: Naif, Rumah Sakit, dan lain-lain.

Beragam musik lahir di Gampingan: Punk, Gothic, Garage, Grindcore, Pop alternative sampai yang tak terlacak laigi aliran musiknya. Beragam busana juga mewarnai Gampingan, tiada hari tanpa busana. Menurut beberapa angkatan 92 ke atas, terkisah: dandanan gampingan dulu ada dua tipe fesyen: ala Koboi dan ala Indian. Lalu semenjak 95, dandanan sudah mulai bervariasi, dari potongan rambut Mohawk, rambut berwarna-warni, anting-anting, kalung, gelang, piercing hidung, kaos terbalik hingga sepatu boot. Ini adalah sisi lain dari Gampingan.

Reuni dan Melukis bersama sebagai Momen Persinggahan

Sudah 10 tahun saya bersama Gampingan dan kini Sewon. Sejak saya mahasiswa, dan dengan beberapa kiprah diluar lalu kini mengajar di almamater saya: Gampinga tetap teringat sepanjang hayat. Kini di Sewon, juga punya kehidupan yang lain, yang kurang lebih sama. Di sana seni rupa, musik, busana, membentuk gaya hidup dengan semangat zaman yang tentu saja berbeda.

Acara reuni, pentas musik dan melukis bersama ini tentu saja penting untuk melihat kemasalaluan FSR ISI, bukan semata-mata dari sepak terjang perupanya yang hebat. Namun juga berbagai gaya hidup Gampingan.

Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Ada yang diingat, ada yang dilupakan, ada yang teringat, ada yang terlupakan. Semoga ada banyak usaha untuk mengumpulan catatan-catatan sejarah Gampingan ini. Acara ini tentu jauh dari sekadar sebuah romantisasi, juga bukan pula alienasi untuk hidup terus-menerus dimasa lalu. Acara ini menjadi momen persinggahan, sekadar untuk mengenang hiruk-pikuk dan haru-biru masa lalu Gampingan.

Viva Gampingan !

Yogyakarta, 19 November 2006

Read More......