Sunday, December 12, 2010

Pukhet

Ruangan resto Pukhet tidak besar juga tidak kecil. Warung makan yang tak jauh dari jembatan layang Jogja ini berwarna dominan kuning. Nampak sejumlah poster di dinding resto yang menampikan sosok aristokrat (lewat dandanan ala pakaian kebesaran kerajaan Thailand?). Siapa dia?.

Entah. Wajah itu hadir dengan raut serius dengan sorot mata tajam. Sebuah postur yang memang sengaja tidak dibuat untuk tujuan menggoda dan dengan teknik perancangan tinggi sebagaimana kita lihat dalam bahasa iklan masa kini. Lepas dari miskinnya informasi atas sosok itu, kita bisa mengatakan bahwa sosok itu memiliki kedudukan dan status sosial penting di dalam budaya Thailand (?) itu sendiri. Pendek kata, figur itu pun mencapai statusnya sebagai sebuah simbolApa kaitan antara sosok itu, dengan Pukhet dan masyarakat disini (Jogja) ?

Barangkali kita bisa memberi pendapat seperti ini: bahwa pada masyarakat yang (masih?) percaya pada simbol dan butuh dipersatukan oleh simbol, sosok simbolis itu seperti mendapat tempatnya. Figur itu juga seperti memainkan fungsinya sebagai tanda yang mengatasi rasa cemas dan rasa ragu kita, seolah-olah figur itu bisa ngomong: "Anda orisinal dan otentik bersama saya". Siapa yang berbicara kepada kita? Kita tidak tahu persis: dihadapan potret "sosok bangsawan" itu kita seolah memperoleh jaminan untuk mengalami rasa "ke-Thailand-an yang otentik dan orisinal".

Lagu demi lagu tradisional Thailand di Pukhet mengiringi ritual makan. Alunan nada yang terdengar seperti lagu mandarin; atau mungkin gending Bali; gending Jawa (?): lagu pengiring itu mengentalkan rasa dan aroma rempah-rempah menu Pukhet. Nada lagu itu juga seperti memainkan fungsinya sebagai "pembatas virtual" yang membagi "dunia dalam" resto dan "luar resto" (begitu kita keluar dari Pukhet yang hadir adalah dunia lain tersendiri yang dibangun oleh bunyi bising lalu-lalang kendaraan); nada lagu itu juga seperti berfungsi sebagai pagar kasat mata yang membedakan diri dengan berbagai jenis resto yang melambangkan identitas negara/bangsa: resto China; Jepang; Persia; dan lain-lain.

Sambil makan dan bersenda gurau kita mendapat bonus: tamasya ke Thailand atau lebih tepatnya: perjalanan imajiner atas "ke-Thailand-an".Tidak terlalu penting apakah kita pernah ke negeri ini atau belum. Tetapi Pukhet (sebuah nama pulau di Thailand) sudah kita kunjungi melalui rasa: asam-pedas; dimakan dengan cara memindah kuah berikut isi Tom Yam sea food ke mangkok kecil; mengoleskan sambal ke ayam goreng; sesekali iseng menggigit daun jeruk nipis; menguliti dan mencecah daging dan seterusnya.

Ditengah puluhan hingga ratusan simbol makanan global, Pukhet seperti menghadirkan sebuah teka-tekinya tersendiri, "apa itu Thailand?", betulkah Thailand adalah apa yang tersurat melalui brosur pariwisata atau budaya promosionalnya ? Saya tidak memikirkan sejauh itu. Saya dan istri hanya makan sambil ngelantur (atau semacam ngomyang:bahasa Jawa) bersama Tom Yam :-p, dengan potret sosok yang terus menatap siapapun yang menikmati menu Pukhet; sorotan mata yang tentu saja tak kosong; sebuah tatapan imperatif yang paradoksnya justru menambah nikmat (pleasure) disamping sekadar kenyang...

Yogyakarta, 19-9-2010

1 comment:

Satrio said...

Seneng baca tulisannya mas sujud.