Saturday, April 10, 2010

Abadi dan Mandiri bersama biskuit Khong Guan


Diantara sejumlah biskuit, ada satu kaleng biskuit yang menyita perhatian penikmat biskuit: biskuit Khong Guan. Khususnya yang bergambar keluarga kecil yang tengah menikmati biskuit dan kopi atau teh?

Bila kita memperhatikan ilustasi pada kaleng kotak itu nampak dari dulu sampai sekarang, dua remaja dan si Ibu tidak tumbuh besar * saya ingat film Unyil :) Mereka tetap terus menerus makan dan terlihat harmonis. Di atas meja itu, tersedia minuman dan biskuit yang terhidang. Tentu biskuit itu biskuit Khong Guan. Namun, yang menarik tidak tampak sang Bapak? Potret keluarga kecil ini menyiratkan potret keluarga sedang atau mapan. Mungkin, sang bapak sedang dinas luar? Yang pasti sosok ibu disitu seperti ingin menegaskan kehadirannya sebagai citra ibu yang intim mengasuh kedua remaja itu.


Sejak Khong Guan PTe LTD ini memasarkan biskuit ini tahun 1947, ilustrasi dan cita rasa biskuit ini telah hadir dalam ritual masyarakat Indonesia selama 62 tahun. Jenis biskuit ini bermacam-macam, mulai dar Crackers, Cookies, Wafers, Shortcake Biscuits, Cream-Filled Sandwich, dan lain-lain. Pabrik biskuit ini tersebar dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Hongkong, dan Cina. Eksport biskuit ini meluas ke Amerika hingga timur tengah termasuk Jepang dan Papua New Guenia.

Ritual ini hadir biasanya menjelang hari raya besar agama. Tamu dipersilahkan mencicipi biskuit kaleng ini. Biasanya ditemani oleh teh manis atau kopi. Dan segera setelah itu, antara tuan rumah dan tamu berlangsung berbagai jenis obrolan. Bila obrolan terasa hambar atau macet, maka ini waktu yang tepat untuk mengunyah-ngunyah biskuit Khong Guan, sebab siapa tahu ada topik obrolan baru !

Diantara jenis biskuit, jenis biskuit favorit yang paling banyak dicari adalah “wafer”. Ya, wafer, biskuit ini biasanya agak tersembunyi di antara deretan dan susunan hirarkis jenis biskuit lainnya. Saya termasuk yang mencari biskuit yang mengandung pemanis cokelat ini :) Kres, bunyinya, tanda rasa yang simpel dan renyah ! Tapi tunggu dulu ! Jangan langsung dimakan, ada keasikan tersendiri ketika lapis demi lapis kue ini dibuka satu persatu.

Si wafer diburu karena memang nampak ia diposisikan istimewa. Terlapisi plastik pelindung khusus. Selain itu, seperti sudah jadi tradisi, biskuit wafer seolah mengawali dan mengakhiri proses memakan jenis biskuit lainnya. Keponakan saya mendapat kelakar julukan dari bulek saya di Jawa Timur sebagai: “gilingan puntir”. Seperti penggiling, sebab susunan biskuit dalam kaleng Khong Guan dipuntir-puntirnya berantakan, pokoknya diobok-obok sampai wafer ketemu. Dari cerita tentang bulek, biskuit ini memicu banyak pengertian baru: Gilingan Puntir. 


Bila kita mau berkunjung ke Kebon Binatang Surabaya (KBS), nampak tak jauh dari situ ada tugu Khong Guan. Tugu Khong Guan seperti sebuah landmark, ia juga menandai kota Surabaya selain patung Yos Sudarso dan tugu Pahlawan. Apa yang kita lihat dari tugu itu sama persis dengan bentuk kotak kaleng Khong Guan. Dari bilik jendela bis, mobil, atau orang-orang yang dipemberhentian lampu merah akan melihat sosok tegar Khong Guan.

Walau tak setinggi monumen umumnya, cara berdiri Khong Guan berdiri sama seperti cara berdiri tugu Pahlawan dan patung Yos Sudarso yang berdiri tegap dan mantap. Seperti tokoh Yos Sudarso dan mitos Sura dan Baya, biskuit Khong Guan seperti tak mau kalah dan juga seperti lantang berseru: “Walau hujan dan panas menerpaku, aku tetap Khong Guan mu !” Kurang lebih begini bila kita menjejajarkan tugu Khong Guan dengan nasionalisme tanda pada tugu Pahlawan dan Yos Sudarso.

Ilustrasi pada kaleng biskuit itu menjadi penjadi pengingat setiap peralihan generasi. Ilustrasi Khong Guan tetap sama. Ibu dengan dua anak itu tetap tengah asik menikmati hidangan biskuit. Dengan nuansa mode rambut dan pakaian “jadul” era 60-70-an. Khong Guan seperti tidak menjanjikan apa-apa . Tetap konsisten. Baik dari bentuk dan cita rasanya. Konservatif? Kita boleh bosan dengan cara biskuit ini mencitrai dirinya, namun nyataya biskuit ini tetap digemari oleh keluarga Indonesia.

Barangkali bukan lagi jenis dan rasa biskuit itu yang kita ingini, tapi kita membutuhkan nilai keabadian dan kemandirian yang tak terlihat dari biskuit Khong Guan. Mungkin...

Mari kita bikin teh atau kopi dengan hidangan biskuit dengan cita rasa abadi ini :)

5 comments:

Unit Kreatif Morukai said...

opini morukai nih : suasana yang nampak di pagi hari yang dingin, menunjukkan biskuit ini sangat tepat dikonsumsi di waktu cuaca dingin, dimana di negara Eropa (seperti biasa kita tonton di film2) biasanya si bapak sudah berangkat bekerja, sedangkan ibu bertugas menyiapkan sarapan buat anak-anaknya untuk kemudian mengantarnya ke sekolah (tampak anak2 memakai seragam berkerah putih dibalut sweater dan mungkin saja saat itu musim dingin). Visual yang ada pada kaleng tampak dominan si ibu, mungkin dilihat dari cara penyajian biskuit yang biasa dilakukan sendiri oleh ibu sebagai wanita yang mandiri.

By: Grace Samboh said...

Wahh ... kamu harus lihat karya "Khong Guan"-nya Om Amenggg! Kerennn ;)

By: Grace Samboh said...

Wahh ... kamu harus lihat karya "Khong Guan"-nya Om Amenggg! Kerennn ;)

::: said...

yup grace !

ayo bikin review karya Ameng sekalian :)

tengki utk komennya...

Fingers' Flow said...

Aku kok jadi kepikiran tulisannya Mas ini, yaa ....

(Ai)